Penerapan Teknologi Tepat guna pada Budidaya dan Penanganan Pascapanen Tanaman Padi Organik
##plugins.themes.academic_pro.article.main##
Abstrak
Padi merupakan komoditas utama sebagai sumber karbohidrat bagi masyarakat Indonesia. Upaya peningkatan produksi padi telah dilakukan pemerintah, namun belum diimbangi dengan penanganan panen dan pascapanen yang optimal sehingga tingkat kehilangan hasil masih tinggi, mendekati 10%. Data BPS (2024) menunjukkan susut panen padi mencapai 9,5% saat panen dan 4,8% pada tahap pascapanen, yang berpotensi menurunkan produksi gabah nasional yang saat ini tercatat sekitar 65 juta ton GKG. Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, memiliki sekitar 1.000 ha lahan sawah pada ketinggian ±500 mdpl dengan petakan kecil dan pola terasering. Permasalahan utama yang dihadapi petani padi organik di wilayah ini adalah rendahnya pengetahuan tentang budidaya, pembuatan pupuk organik, serta penanganan pascapanen yang baik. Kondisi tersebut menyebabkan tingginya susut hasil, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga tidak memberikan insentif ekonomi bagi petani untuk meningkatkan pendapatan. Gabah dengan kadar air tinggi juga mudah rusak dan memperbesar kehilangan hasil. Penanganan pascapanen yang tepat dan berbasis spesifik lokasi diperlukan untuk menekan susut hasil dan meningkatkan kualitas gabah. Pada wilayah dengan kepemilikan lahan sempit dan topografi perbukitan, teknologi tepat guna berupa mesin perontok gabah (power thresher) menjadi solusi yang sesuai, karena alat panen modern seperti combine harvester tidak dapat beroperasi secara efektif di daerah persawahan terasering.