PENENTUAN ASPEK UTAMA DALAM MENDESAIN KEMASAN TABARO DANGE KHAS LUWU MENGGUNAKAN
Dange merupakan salah satu makanan tradisional khas Luwu yang dikonsumsi oleh masyarakat sekitar sebagai makanan pendamping biasanya bersama kapurung, pacco’, atau lawak. Dange terbuat dari sagu sehingga bisa menjadi makanan pengganti nasi yang dapat mengenyangkan karena kandungan pati yang tinggi pada sagu. Dange juga bisa dijadikan menu diet gula karena kandungan indeks glikemik yang rendah sehingga memiliki peran yang baik jika dibandingkan dengan nasi. Besarnya manfaat mengonsumsi dange ini tidak membuat produk ini terlalu laku di pasaran. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya kemasan yang digunakan untuk mengemas dange tersebut. Dange yang telah dimasak dan didinginkan biasanya dikemas menggunakan kantong kresek tipis kecil yang tidak terlalu menarik baik dari segi penampilan maupun higienitasnya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan agar tersedia alternatif kemasan baru untuk dange sehingga diharapkan dengan kemasan baru tersebut dapat meningkatkan daya jual dange. Ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan untuk mendesain kemasan pangan, diantaranya yaitu aspek visual kemasan, keamanan/daya lindung kemasan, harga jual produk, sifat ramah lingkungan, dan kemudahan dalam menggunakannya. Dominansi dari salah satu aspek tersebut dapat berubah-ubah bergantung kebutuhan dan daya beli konsumen, kesediaan modal, tujuan utama kemasan serta jenis produk yang akan dikemas. Oleh karena itu, perlu diketahui terlebih dahulu aspek mana yang paling utama dipertimbangkan dalam membuat desain kemasan sehingga desain kemasan dange yang dihasilkan lebih tepat sasaran. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menentukan aspek utama tersebut adalah menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Metode ini memungkin penentuan perlakuan terbaik tersebut secara lebih objektif memanfaatkan aplikasi Expert Choice dari penilaian dan pemberian skoring oleh responden ahli. Setelah itu, aspek utama yang dihasilkan dengan metode AHP ini akan dibandingkan dengan data survei yang dilakukan pada 100 responden/konsumen produk tabaro dange. Hasil AHP menunjukkan bahwa keamanan dan daya lindung kemasan adalah aspek utama dalam mendesain kemasan tabaro dange khas luwu dengan nilai inconsistency mencapai 0,08. Hal ini searah dengan data hasil survei oleh konsumen menunjukkan 69% dari mereka memilih kualitas produk sebagai aspek utama dalam membeli produk, di mana kualitas produk sangat dipengaruhi oleh keamanan dan daya lindung kemasannya.
Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama
- Andi Hermina Julyaningsih, Ibnu Mansyur Hamdani, Abu Bakar Tawali, PENENTUAN UMUR SIMPAN METODE ACCELERATED SHELF-LIFE TESTING (ASLT) PADA KOSENTRAT IKA GABUS (Ophiocepahlus striatus) DALAM KAPSUL , Jurnal Agritechno: Jurnal Agritechno Vol. 17, Nomor 1, April 2024
- Andi Hermina Julyaningsih, Ibnu Mansyur Hamdani, Irmayani, Analisis Mitigasi Risiko Bisnis Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L.) Kelompok Tani Salonro Jaya Dengan Pendekatan House Of Risk (Hor): Risk Mitigation Analysis of Bird’s Eye Chili (Capsicum frutescens L.) Agribusiness in the Salonro Jaya Farmer Group Using the House of Risk (HOR) Approach , Jurnal Agritechno: Vol 19 No 1 (2026): Jurnal Agritechno